Hubungan Pola Hidup Aktif dengan Risiko PenyakitTidak Menular pada Masyarakat Perkotaan danPedesaan

Penulis

  • Muhammad Sulfa Universitas Cahaya Prima image/svg+xml Penulis
  • Andi Abdul Rahman Universitas Cahaya Prima Penulis
  • Riska Dwi Saputri Universitas Cahaya Prima Penulis
  • Cendana Untarolla Universitas Cahaya Prima Penulis
  • Adelvin Sangkalabu Universitas Cahaya Prima image/svg+xml Penulis

Kata Kunci:

pola hidup aktif, penyakit tidak menular, diabetes melitus, aktivitas fisik, masyarakat perkotaan, masyarakat pedesaan

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pola hidup aktif dengan risiko penyakit tidak menular (PTM) pada masyarakat perkotaan dan pedesaan di Kabupaten Bone. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain case-control. Sampel penelitian berjumlah 100 responden yang terdiri atas 50 kelompok kasus dan 50 kelompok kontrol. Data pola hidup aktif diperoleh melalui kuesioner aktivitas fisik, sedangkan data kejadian penyakit tidak menular diperoleh berdasarkan status responden. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan perhitungan Odds Ratio (OR) pada tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan (54,0%), berusia 45–59 tahun (45,0%), dan berpendidikan SMA (47,0%). Pada kelompok kasus, mayoritas responden memiliki pola hidup kurang aktif (64,0%), sedangkan pada kelompok kontrol sebagian besar memiliki pola hidup aktif (70,0%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pola hidup aktif dengan kejadian penyakit tidak menular, khususnya diabetes melitus (p = 0,001). Nilai Odds Ratio (OR) sebesar 4,15 menunjukkan bahwa responden dengan pola hidup kurang aktif memiliki risiko sekitar 4,15 kali lebih besar mengalami diabetes melitus dibandingkan responden yang memiliki pola hidup aktif. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pola hidup aktif berperan penting dalam menurunkan risiko penyakit tidak menular pada masyarakat. Aktivitas fisik yang dilakukan secara teratur mampu meningkatkan sensitivitas insulin, memperbaiki metabolisme glukosa, serta membantu menjaga berat badan sehingga dapat mengurangi risiko terjadinya diabetes melitus. Oleh karena itu, diperlukan upaya promotif dan preventif melalui peningkatan aktivitas fisik serta penerapan gaya hidup sehat secara berkelanjutan, baik pada masyarakat perkotaan maupun pedesaan, sebagai strategi dalam pencegahan penyakit tidak menular.

Unduhan

Diterbitkan

2025-12-30